24.12.05

Masjid & Tsunami

Tadi sore nonton acara tentang tsunami 2004 yang melanda beberapa negara, termasuk Indonesia. Acaranya menceritakan kronologis peristiwa gelombang tsunami yang menyerbu Pantai Aceh, Thailand, Sri Lanka, Maldives dan beberapa negara lainnya. Diselingi pula analisis para ilmuwan asing, kebanyakan dari beberapa universitas di AS.

Image hosted by Photobucket.com

Disebutkan bahwa bangunan-bangunan yang terletak tegak lurus dengan arah gelombang tsunami mengalami kerusakan paling parah. Namun banyak sekali bangunan masjid yang tetap berdiri kokoh setelah diterjang gelombang, walaupun tetap mengalami kerusakan, namun tidak sampai rata dengan tanah. Analisisnya adalah konstruksi masjid yang memungkinkan letak bangunan tidak tegak lurus terhadap arah gelombang datang dari laut, sebab seluruh masjid dibangun dengan menghadap kiblat!

Walaupun masih terdapat beberapa kemungkinan, seperti konstruksi bangunan yang memang kokoh dan lokasi masjid yang agak jauh dari bibir pantai. Namun menyadari fenomena seperti ini...

Subhanallah!

12.12.05

Tiga Buku Baru

Sabtu kemarin akhirnya jadi juga ke Indonesia Book Fair 2005 di Balai Sidang, Senayan. Beruntungnya, bisa mendapatkan 3 buku bagus dengan harga diskon: 100 Tahun Bung Hatta, Bahasa Menunjukkan Bangsa-Alif Danya Munsyi, dan yang ditunggu-tunggu... novel lain dari Habiburrahman Al-Shirazy alias Kang Abik: Pudarnya Pesona Cleopatra.

Buku pertama kubeli ketika mengunjungi stand Kompas. Kulihat di rak buku-buku diskon terpajang buku 100 Tahun Bung Hatta, kumpulan tulisan para pakar yang mengulas pemikiran-pemikiran ekonomi dan politik sang proklamator itu. Buku yang cukup tebal dengan harga murah (mungkin karena sudah terbit 3 tahun yang lalu), maka langsung kubeli tanpa pikir panjang. Buku kedua, Bahasa Menunjukkan Bangsa karya Alif Danya Munsyi. Mungkin nama itu terdengar asing. Pernah dengar Remy Sylado? Yup, dua nama itu dimiliki orang yang sama. Sebenarnya ia dilahirkan dengan nama Yapi Tambayong. Buku ini juga merupakan kumpulan tulisan dan ceramah penulis tentang bahasa. Di antaranya, kritik penulis terhadap aturan-aturan baku Bahasa Indonesia yang kadang menjadi kaku dan rancu. Ia memplesetkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa menjadi Pusat Pembinasaan dan Pembingungan Bahasa. Lalu sindiran penulis tentang kebiasaan para pejabat, media massa, sampai anak-anak muda yang sok 'nginggris', hingga menjadikan bahasa kita menjadi genit, kenes dan gemar bersolek. Dan ternyata, penulis menemukan bahwa 9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah kata serapan dari bahasa asing. 90% memang luar biasa! Sebagian besar adalah serapan dari Bahasa Sansekerta, Arab, Cina, Inggris, Portugis dan Belanda. Kalau tak percaya, cobalah baca dan teliti baik-baik naskah proklamasi kita!

Buku terakhir adalah Pudarnya Pesona Cleopatra. Sejak membaca Ayat-Ayat Cinta-nya Kang Abik, aku jadi sangat penasaran ingin membaca karyanya yang lain. Beruntung ketika mengunjungi stand Republika, terpajang buku itu, bersebelahan dengan Hafalan Shalat Delisa (aku juga ingin beli buku itu, tapi ternyata kocek tidak mendukung). Novel ini sebenarnya lebih dulu ditulis sebelum A2C. Berbeda dengan A2C yang menggambarkan tokoh utamanya dengan sedemikian sempurna, tokoh utama dalam PPC memiliki karakter yang sangat berbeda. Tokoh utama 'aku' (tidak disebutkan namanya) adalah seorang dosen lulusan Al Azhar Cairo yang mengajar di sebuah universitas di Malang. Ia terpaksa menikah dengan Raihana, karena ibunya telah berjanji dengan ibu Raihana untuk menjodohkan kedua anaknya. Raihana sebenarnya adalah sosok istri ideal. Seorang Hafidzah, berpendidikan dan juga berprofesi dosen, shalihah, sangat menjaga pandangan, berjilbab rapat, dan tentunya... cantik. Namun sang tokoh utama tidak mampu menumbuhkan rasa cintanya kepada istrinya tersebut, karena ia telah memiliki cita-cita yang telah tertanam dalam otaknya untuk mendapatkan gadis yang secantik bintang film Mesir. Berhidung mancung, kulit putih dan bermata indah. Walaupun Raihana berusaha untuk menjadi istri yang sebaik-baiknya, namun tokoh utama juga belum mampu untuk mencintainya. Teman-teman dosen juga acapkali memuji tokoh utama bahwa betapa beruntungnya ia mendapatkan istri macam Raihana. Suatu ketika tokoh utama bertemu dengan sesama dosen alumni Al Azhar yang pernah menikah dengan gadis Mesir. Akhirnya pengalamannya membuat sang tokoh berubah pendirian. Rasa cinta yang bergejolak kepada Raihana seketika tumbuh memenuhi relung hatinya. Namun cerita belum berakhir sampai di sini... penasaran???? Beli aja bukunya! Bagi yang ngga punya duit, boleh pinjem... hehehe.