31.1.05

hape dan ngajar...

wah, liburan gini... hp-ku bener2 bisa rehat. pulsa awet, batere juga tahan. sebenernya ada seorang temen yang suka kirim2 sms or miskol-miskolan, tapi belakangan ini dia memutuskan untuk melakukan penghematan... and guess what, ujung-ujungnya dia 'nyalahin' aku atas tuduhan 'menghisap' pulsa dia (hiks hiks, gpp deh, emang ada benernya juga sih...). jadi nampaknya masa-masa itu sudah berakhir.


bbrp hari yang lalu si dia sempet sms, sepertinya bermaksud ngajak diskusi gitu deh... tapi tanggapan dari aku kayaknya nggak seperti yang dia harapkan. hehehe, tolong maafkan saya deh... saya punya mood emang sedang nggak menentu saat itu. eh, tau nggak, ternyata kosakata handphone itu bukan kosakata baku bahasa inggris loh... coz orang inggris or amrik biasa nyebutnya mobile phone atau cellphone. coba aja deh kalo nggak percaya, tanyain ke orang bule: hey man, nice HP u have! pasti dia terbengong-bengong dah... hehehe!

aduh, ni bener2 curhatan nggak penting banget deh... coz aku lagi kesepian nih, kosan sepi buanget, kayak kuburan aja... masih pada betah di kampungnya masing-masing. tapi jum'at kemarin aku dapet pengalaman baru loh: ngajar privat anak smp di al manar. sebenernya ditawarin ngajar anak kelas 3 smu, tapi masih kurang pede euy, apa ni otak masih inget ye? (bener-bener payah!). tapi lumayanlah, aku lumayan terhibur juga ama tingkah polah anak-anak itu. mereka masih kelas 1 smp, jadi masih kentara banget sifat2 sd-nya, masih suka heureuy. ada dua anak, cewek dan cowok. yang cewek namanya vina, yang cowok namanya mufti. lagi tengah2 ngajar, mufti nanya: "kak, kenapa sih magnet cuma bisa narik besi aja?" glek! bener2 malu-maluin banget, soalnya aku sempet lama mikirnya sebelum jawab pertanyaan tu anak. aduhmak, musti banyak2 introspeksi nih, apakah aku layak menyandang gelar S.Si??

o iya, di al manar itu aku ketemu lagi dengan akhwat mantan seniorku di ISC, namanya teh $$$$$. ternyata dia dah lama ngajar biologi di al manar. waks, ternyata teteh itu masih nampak ******.


28.1.05

Tentang Aceh

Sejak musibah tsunami menimpa saudara-saudara kita di Aceh, saya jadi berniat untuk membuat sebuah tulisan tentang kilas balik Aceh yang dahulu merupakan sebuah negeri berdaulat: Kesultanan Aceh Darussalam. Sebuah kerajaan di bawah naungan Islam yang pernah mencapai masa-masa keemasannya dalam bidang dakwah Islam, kekuatan militer, dan perdagangan. Tulisan ini sebagian besar bersumber dari koleksi Ensiklopedi Islam saya dan beberapa situs internet luar negeri. Sebelumnya, izinkan saya mempersembahkan sebuah pantun,

Chik Sofyan asal Banda
ke Langsa jalan kaki
tulisan hamba tak seberapa
jikalau hina janganlah dimaki :)

Aceh: Sebuah Kilas Balik

Aceh menangis, porak poranda

Aceh menangis, porak poranda. Ratusan ribu orang tewas dan hilang ditelan ganasnya gelombang tsunami. Sedangkan ratusan ribu lainnya berada dalam pengungsian dengan masa depan yang belum menentu. Banyak orang berkata, kehidupan seperti roda pedati. Ada kalanya di atas, ada kalanya pula di bawah.

Sejak era kemerdekaan sampai sekarang, Aceh memang kerap kali dirundung nestapa. Pengorbanan rakyat Aceh yang menyerahkan perhiasan dan harta benda mereka untuk ditukar dengan sebuah pesawat udara pertama yang bangsa ini miliki, Seulawah, dibalas dengan air tuba oleh elit pemerintah di Jawa. Aceh sempat dijadikan sebuah keresidenan di bawah provinsi Sumatera Utara pada era Bung Karno dahulu. Pembagian kekayaan yang tidak seimbang antara daerah dengan pusat pemerintahan memicu terjadinya pemberontakan oleh rakyat Aceh yang dipanglimai Teungku Daud Beureuh. Pemberontakan mereka akhirnya ditumpas habis oleh militer dan Daud Beureuh diganjar hukuman atas tuduhan makar.

Ketidakadilan itu terus berlanjut hingga era orde baru. Pemberontakan tetap bergejolak, kali ini oleh kelompok yang menamakan dirinya Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Hal ini memaksa pemerintah pusat memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM). Alih-alih menjaga keamanan, militer menjadi ancaman baru bagi segenap rakyat Aceh. Banyak warga sipil tak bersalah yang ditangkap dan diculik oleh militer. Ribuan perempuan jadi janda dan ribuan anak jadi yatim. Banyak pula perempuan Aceh yang diperkosa oleh oknum-oknum militer. Aceh merana.

Kembali ke masa lima abad yang lalu, mungkin orang-orang pada masa itu tak akan ada yang mengira bahwa Aceh akan terpuruk seperti sekarang ini. Tahun 1514, telah berdiri sebuah kerajaan berdaulat di bawah naungan Islam di ujung pulau Sumatera bernama Kesultanan Aceh Darussalam dengan Ali Mughayat Syah sebagai sultan pertama. Dalam kitab Bustan as-Salatin, kitab kronik raja-raja Aceh, disebutkan bahwa Sultan Ali Mughayat Syah mendirikan Kesultanan Aceh sebagai pengganti beberapa kerajaan Islam sebelumnya, seperti Samudera Pasai, dan kemudian Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis, dan mempersatukan dua kerajaan kecil, Mahkota Alam dan Darul Kamal. Pusat Kesultanan adalah Banda Aceh Darussalam, yang juga disebut Kuta Raja.

Dalam perkembangannya, Aceh dikenal dengan armada militernya yang kuat. Armada Portugis yang dipimpin oleh Jorge D. Brito menyerang Aceh pada 1521, namun pasukan Aceh di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah berhasil mengalahkannya. Lalu pada 1547 dan 1568, Sultan Alauddin al-Qahhar menginvasi Malaka yang dikuasai Portugis. Menurut seorang musafir Portugis, Mendez Pinto, kala itu Aceh memiliki tentara dari berbagai negara, antara lain Turki, Cambay, dan Malabar. Sultan Alauddin juga telah membuka hubungan diplomatik dengan Kesultanan Turki Usmani. Tahun 1562, Sultan mengirim utusannya ke Istanbul untuk membeli meriam dari Sultan Turki.


Sultan Alauddin juga memelopori penyebaran Islam di pulau Sumatera. Ia mendatangkan ulama-ulama dari India dan Persia untuk menyebarkan dakwah Islam ke pedalaman Sumatera, mendirikan pusat dakwah Islam di Ulakan, dan membawa Islam ke Minangkabau dan Indrapura (sekarang wilayah Provinsi Sumatera Barat).

Aceh gilang-gemilang di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Pada masa kekuasaannya, wilayah Aceh bertambah luas meliputi Sumatera Utara dan Semenanjung Malaya (kini Malaysia). Dengan armada militernya yang disegani, Aceh menguasai perdagangan lada di pesisir Sumatera Barat sampai Indrapura dengan Pariaman sebagai bandar terpentingnya. Sultan Iskandar Muda terus meneruskan perjuangannya mengusir Portugis dari Selat Malaka dan menguasai daerah-daerah penghasil lada. Penaklukan pada masa Iskandar Muda meliputi Pahang (1618), Kedah (1619), Perak (1620), dan kemudian Indragiri dan Batu Sawar, ibu kota Johor.

Sultan Iskandar Muda juga menjalin hubungan baik dengan daerah-daerah taklukannya di Semenanjung Malaya. Putrinya yang bernama Safiatuddin dinikahkan dengan seorang Pangeran Pahang, putra Sultan Ahmad Syah, Sultan Pahang. Kelak Iskandar Muda mewariskan mahkota sultannya kepada menantunya itu, yang setelah menjadi sultan bergelar Sultan Iskandar Tsani.

Sultan Iskandar Muda juga mendirikan Masjid Baiturrahman, masjid megah kebanggaan rakyat Aceh yang menjadi tempat berlindung dari ganasnya ombak tsunami beberapa waktu lalu. Sultan juga menerapkan hukum Islam dengan tegas. Putranya, Meurah Pupok, dihukum rajam olehnya karena terbukti berzina dengan istri seorang perwira kerajaan. “Mati anak ada makamnya, mati hukum kemana lagi akan dicari keadilan”, begitulah ucapnya ketika penasihatnya mempertanyakan kebijakannya itu. Pada masa ini juga hidup ulama dan sufi besar Aceh Syamsuddin as-Sumatrani, yang juga pengikut seorang sufi bernama Hamzah Fansuri. Hamzah menulis syair-syair sufistik berbahasa melayu yang diyakini sebagai syair melayu tertua dan belum ada tandingannya sampai saat ini. Hamzah Fansuri sendiri diduga hidup pada masa Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammal..

Mungkin juga belum banyak yang mengetahui bahwa Kesultanan Aceh pernah diperintah selama kurang lebih 58 tahun (1641-1699) oleh empat ratu (sultanah) secara berturut-turut. Keempat sultanah tersebut yakni, Safiatuddin Tajul Alam (putri Iskandar Muda dan janda Iskandar Tsani), Naqiyatuddin Nurul Alam, Inayat Syah, dan Kamalat Syah. Pada masa awal pemerintahan Sultanah Safiatuddin, banyak muncul ketidaksukaan sebagian orang yang tidak menerima kepemimpinan wanita. Di masanya hidup ulama besar Abdur Rauf Singkel sebagai ulama kerajaan menggantikan Nuruddin ar-Raniri yang pergi meninggalkan Aceh ketika Sultanah Safiatuddin naik tahta. Masyarakat Aceh mengenal Abdur Rauf Singkel sebagai Teungku Syiah Kuala, yang namanya diabadikan menjadi nama universitas negeri di Banda Aceh. Sultanah pada masa kekuasaannya juga menggalakkan pendidikan Islam melalui Jami’ah Baiturrahman di Banda Aceh, dan mengirim kitab-kitab karangan ulama Aceh dan Al Qur’an kepada raja-raja Ternate, Tidore, dan Bacan di kepulauan Maluku di samping guru-guru agama dan mubalig.

Kisah kepahlawanan dan keberanian rakyat Aceh melawan pendudukan Kolonial Belanda terekam dalam peristiwa Perang Aceh yang berlangsung selama 31 tahun (1873-1904). Perang ini tercatat dalam sejarah Indonesia dan Belanda sebagai konflik bersenjata terpanjang dan paling berdarah-darah (the longest and bloodiest war in Dutch-Indonesian History). Rakyat Aceh menyebut perang ini sebagai Prang Sabi atau Perang Sabil, yaitu perang di jalan Allah. Para pejuang Aceh beserta ulama dan uleebalang (hulubalang) dengan gagah berani bertempur mengusir pendudukan Belanda dan meyakininya sebagai jihad dalam membela agama dan negara. Salah seorang ulama yang juga sastrawan Aceh bernama Teungku Chik Pantee Kulu menulis syair-syair perjuangan berjudul Hikayat Perang Sabil. Syair-syairnya turut menggelorakan para pejuang dalam jihadnya mengusir musuh.

Pada awalnya, Kesultanan Aceh diakui kedaulatannya oleh Inggris yang menguasai Semenanjung Malaya dan Belanda yang menguasai Jawa dan sebagian Sumatera. Pengakuan ini dijamin oleh Treaty of London (Traktat Sumatera I) tahun 1824. Namun Belanda belum puas karena Aceh masih menguasai sebagian besar perdagangan lada di pesisir Sumatera. Belanda pun gencar menjalin hubungan dengan negara-negara barat lainnya dan akhirnya berhasil membuahkah Anglo-Dutch Treaty (Traktat Sumatera II) pada 1871. Traktat ini memberi keleluasaan bagi Belanda untuk menguasai Aceh dengan kekuatan bersenjata. Apalagi setelah melihat adanya pembicaraan antara utusan Aceh dengan konsul Amerika Serikat di Singapura makin menguatkan alasan Belanda untuk menyerang dan menguasai Aceh. Sebelumnya, Aceh memang sudah membuka hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Pada 1790, kapal Amerika Serikat pertama kali berlabuh di Sumatera. Sejak saat itu sampai 1860, diperkirakan terdapat 967 kali perjalanan kapal Amerika ke Sumatera dan membawa hampir separuh dari produksi lada Aceh. Di antara pedagang Amerika Serikat yang datang ke Banda Aceh adalah Elihu Yale, yang namanya menjadi nama sebuah universitas ternama di Connecticut, Yale University.

Begitulah kilas balik Kesultanan Aceh Darussalam, yang kini sebagian wilayah pesisirnya luluh lantak diterpa tsunami. Semoga kejadian ini menjadi sebuah blessing in disguise, hikmah tersembunyi bagi rakyat Aceh. Musibah ini memang banyak menguras air mata kita semua, namun sangat mungkin untuk menjadi turning point, titik balik bagi Aceh dan rakyatnya yang sudah sejak lama dirundung duka dan derita. Kini saatnya menata kembali wilayah-wilayah yang musnah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tengoklah Jerman yang wilayahnya luluh lantak dibombardir tentara sekutu pada akhir Perang Dunia II, kini kembali bangkit menjadi kekuatan ekonomi dunia dan juga pusat pengembangan teknologi tinggi. Sangatlah mungkin bagi Aceh, apabila kita semua bersungguh-sungguh, untuk mengulangi masa-masa keemasannya dan bahkan melebihinya.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabb-mu lah hendaknya kamu berharap.
(QS Alam Nasyrah: 5-8)



25.1.05

nyok kite nonton ondel-ondel...!

Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar ± 2,5 m dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyarnan barnbu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalarnnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki di cat dengan warna merah, sedang yang perempuan dicat dengan warna putih Bentuk pertunjukan ini banyak persamaannya dengan yang terdapat di beberapa daerah lain. Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, di Bali barong landung. Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa. Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk to menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misainya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel ternyata masih tetap bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta.
(Dinas Kebudayaan & Permuseuman DKI Jakarta)




Bagi yang pernah mengalami masa kecilnya di perkampungan jakarta, pasti sering lihat ondel-ondel diarak keliling kampung. biasanya pada siang menjelang sore hari, pada waktu anak-anak pulang sekolah. wajar aja, karena sebagian besar yang nonton adalah anak-anak ditemani ibu-ibu mereka. waktu saya masih kecil, saya suka ketakutan sendiri ngeliat ondel-ondel. tampangnya yang 'serem' dengan badan yang tinggi besar mengesankan saya seperti seekor 'monster'... they really freaked me out! hehehe, emang saya rada penakut waktu masih kecil... bahkan kalo jalan-jalan ke mall atau ke dufan, saya suka menghindari badut-badut yang menghibur orang-orang yang lewat... dan berlindung di balik punggung ayah atau bundo saya. hihi, konyol ya?!

kini saya tak pernah lagi menjumpai arak-arakan ondel-ondel di jakarta ketika berkunjung ke rumah paman saya yang terletak di tengah-tengah komunitas betawi. mungkin anak-anak masa kini sudah tak tertarik lagi menyimak bentuk-bentuk kesenian seperti itu. mereka kini lebih suka menghabiskan waktu mereka selepas sekolah di tempat rental PS, game jaringan, atau mejeng di mall-mall yang kian menjamur.

mungkin juga para pemain ondel-ondel sudah termarjinalisasi ke lokasi-lokasi pinggiran jakarta, seperti halnya masyarakat betawi yang kian tersisih dari tanahnya sendiri. sungguh sangat disayangkan...

nyok kite nonton ondel-ondel (nyok!)
nyok kite ngarak ondel-ondel (nyok!)
ondel-ondel ade anaknye (boi!)
anaknye ngigel ter-kiteran (oi!)

mak, bapak, ondel-ondel ngibing (serr!)
ngarak penganten disunatin (serr!)
goyangnye asyik dut-ndutan (dut!)
eh nyang ngibing igel-igelan (gel!)

plak dumblang duplak plak plak
gendang nyaring ditepak
nyang ngiringin nandak
pade surak surak
tangan iseng jailin
kepale anak ondel-ondel
taroin puntungan
rambut kebakaran

anak ondel-ondel jejingkrakan (krak!)
kepalenye nyale bekobaran (brul!)
nyang ngarak pade kebingungan (ngung!)
disiramin aer comberan (byur!)

hore!
palenye botak!
hore!
palenye licin!
hore!
idih malu!

(
Ondel-ondel - Benyamin S)

24.1.05

kiasan minang



Bukan bermaksud untuk ashabiyah, apalagi chauvinis, na'udzubillah! sah sah aja kan kalau seseorang merasa bangga dengan bahasa dan budaya etniknya masing-masing. di samping itu, sangat banyak hikmah yang dapat dipetik dari kekayaan budaya kita yang amat beragam ini.

kali ini saya akan memperkenalkan kata-kata kiasan dari daerah asal saya, minangkabau. sebagai bagian dari etnis melayu, adat minangkabau juga sangat kental oleh pengaruh islam. adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. begitulah, telah terjadi asimilasi yang begitu kuat antara agama (islam) dengan adat. orang minang, tidak seperti orang melayu pada umumnya, memiliki keistimewaan dalam bertutur kata. terdapat banyak sekali perbendaharaan kata-kata kiasan untuk menyikapi, bahkan menasihati suatu permasalahan tertentu. singkatnya, apabila orang minang ingin mengatakan "a", tak mesti "a" yang keluar dari mulutnya. mereka mengucapkan kiasan-kiasan tertentu sebagai medium kepada maksud yang hendak disampaikannya. inilah contoh-contohnya, saya peroleh dari <http://www.cimbuak.net>. mari kita simak:

Mangapik Daun Kunyik
Mangapik = menjepit (diketiak) daun kunyit (kunir).Kiasan bagi seseorang yang getol sekali memproklamirkan diri sebagai orang yang puya backing/pembela di belakangnya.
Juga mengobrol kehebatanya kepad lawan bicaranya, dia yang serba pintar dan dia serba tahu.

Mangandakkan Tanduak Kudo
Sesuatu yang tidak mungkin direalisir, masak kuda bertanduk ? Istilah ini dipergunakan juga untuk menolak permintaan orang lain dengan jalan mengada-ada yang sama sekali tidak masuk akal.

Pai Ampok Pulang Aban
Artinya : Pergi melempar pulangnya menimpa.Perdagangan yang pulan modal, tidak beruntung dan tidak merugi. Yang diperoleh hanya capeknya. Biasanya diucapkan dengan kesal sembari membanting apa saja. Sudah bersusah payah berusaha, hasilnya tidak ada, malepeh hao.

Manjagokan Anjiang Lalok
Artinya membangunkan anjing tidur. Seseorang yang berusaha mencari gara-gara, memancing orang supaya marah lalu berkelahi. Biasanya malah menimbulkan bahaya bagi yang bersangkutan. Mengungkit-ungkit persoalan yang telah dilupakan orang, kemudian menimbulkan gara-gara.

Manjua Kuciang Dalam Karuang
Artinya menjual kucing dalam karung. Seseorang berusaha mengelabui orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Si A akan senang sekali bila berhasil dan tanpa memikirkan resiko atas perbuatannya. Si A menjual suatu barang tanpa memberi tahukan kualitas barang yang dijual, dan si pembeli tidak bisa mengetahui kulitas dari barang yang di jual si A tersebut. Istilah lain sama dengan menipu.

Dulu Bajak Pado Singka
Artinya : Bajak duluan, baru kemudian yang menarik bajak di belakangan.Suatu penyimpangan, bukan ? Peribahasa diatas merupakan sindiran bagi mereka yang suka kumpul kebo alias samen leven, hamil tanpa aqad nikahpengulu pejabat agama atau catatan sipil. Atau pasangan yang akibat pergaulan bebas, tanpa kontrol orang tua mereka.

Pacahan Kaco sajo dalam paruik
Pecahan kaca/beling saja dalam perut. Orang yang dalam penampilan sehari-hari biasa-biasa saja, tidak menampakkan kelainan. Tetapi hati dan perangainya tidak ketulungan, busuk, dengki, suka menghasut, pembual/pembohong. Juga diibaratkan kepada seseorang yang niat dalam hatinya hendak menyikat orang saja, menunggu kesempatan dan tidak peduli orang akan teraniaya ataupun menderita kerugian kaena ulah perangainya.

Kusuik Bulu Ayam
Kusuik bulu ayam, yaitu suatu pertengkaran atau beda pendapat yang diperhitungkan tidak akan berbuntut panjang (tidak berakibat fatal).
Lazimnya kedua belah pihak akan berbaikan kembali, lebih-lebih tidak dicampuri oleh pihak ke tiga.Kusut bulu ayam diselesaikan dengan paruh.Kusut benang dicari pangkalnya.Kusut sarang tampuo, api menyudahinya

Mamuntahkan Santan
Mamuntahkan santan, yaitu perilaku yang dapat dikatagorikan sebagai mubazir. Anjuran atau nasehat yang baik dibuang begitu saja, atau suatu pemberian/hadiah yang bagus, ditolak. Sebelum menolak, hendaklah mempertimbangkan sematang-matangnya, supaya tidak sampai menyesal di kemudian hari. Untuk itu perlu pengendalian diri dan perasaan.

Taimpik Lidah
Tergencet lidah. Biasanya dalam menghadapi orang yang berpangkat, bangsawan, atau kaya raya, kita sungkan (malu atau keliwat hati-hati) mengemukakan pendapat sekalipun benar. Atau bisa juga karena kebetulan bersangkut-paut hutang dengan yang bersangkutan, sehingga kita tidak berani berbicara dengannya. Jadi kita sudah mengalah terlebih dahulu.

Basi Baiak Diringgik-i
Besi yang baik dibuat ringgit. Karena bahannya memang sudah baik, tinggal melaksanakannya saja lagi. Bahan yang baik tentu akan menghasilkan produk yang baik. Barang yang baik diperbagus lagi.

Sairiang Batuka Jalan
Seiring namun berbeda persepsi (pendapat). Tujuannya barangkali sama, tetapi cara melaksanakannya berbeda. Biasanya terjadi pada akhir perjalanan missi masing-masing.

Taulok Lidah
Sesorang dalam memberikan sesuatu selalu setengah-setengah. Penyebabnya antara lain : kurang yakin/kurang percaya, dan ada ingatan hendak meminta kembali. Perilaku manusia seperti ini dikatakan : taulok lidah, meminta kembali apa yang telah diberikannya.

Incek cubadak bagomok
Artinya biji nangka digemuki (dioles dengan gemuk) licin bagai belut. Tidak jarang dibarengi dengan kecurangan.
Anda tentu tahu biji nangka, buka ? Sudah licin lalu diberi gemuk lagi, bayangkan saja. Ini kiasan kepada seseorang yang berperangai licin/galia.

Indak taetong paranduak
Artinya tak terbilang piutang. Seseorang berhutang kiri kanan, tidak hanya berupa uang/materi, akan tetapi juga budi dan akibatnya hidup akan senantiasa gelisah.Kiasan ini juga kepada seseorang yang urusannya yang tidak selesai sedangkan sangkut paut utang piutang banyak yang belum selesai.

Mangapik kapalo harimau
Artinya menjepit kepala macan. Seseorang yang suka main beking-bekingan, seolah-olah di belakangnya ada orang kuat/pejabat yang diandalkannya. Ada kalanya itu hanya gertakan saja supaya orang lain takut dan segan terhadapnya.

Maambiak muko
Artinya mengambil muka, seseorang terhadap atasannya mengambil muka dengan menjilat, memuji-muji dan manyanjung saja. Untuk mengambil nama dia kemukakan yang baik-baik saja, tidak berani mengkritik atasannya dan ada juga kemungkinan memburuk-burukkan orang lain. Mengambil muka atau menjilat atasan itu, lambat laun akan ketahuan juga kepalsuannya.Ada juga mengambil muka kepada masyarakat/orang banyak, menonjolkan diri bahwa dia bekerja keras, dia yang punya inisiatif dan lain lain, tetapi akhirnya akan kentara juga sifatnya yang tidak benar oleh masyarakat.

Tabulang di itiak
Artinya terbulang pada bebek. Bebek itu dibulang diberi taji seperti ayam jago untuk diadu seperti ayam. Ini kiasan kepada seseorang diberi jabatan/pekerjaan, sedangkan dia tidak mengerti dan tahu menahu seluk beluk jabatan yang diterimanya itu. Salahnya kepada orang yang memberi jabatan/pekerjaan, tidak diteliti lebih dahulu, apakah calon tersebut mengerti betul jabatan yang diterimanya. Akhirnya tentu gagal, dan tentu jabatan itu dicabut dan diserahkan ke orang yang lebih mengerti.

23.1.05

how come...? (II)

e do do e... testi gw muncul lagi!
how come...?

ho ho ho...