19.12.04

Hanya Sekedar Gengsi!

Bangsa kita memang lebih senang dengan hal-hal yang berbau prestige daripada hal-hal lain yang bermanfaat. Kita boleh saja berbangga diri dengan putra-putri terbaik kita yang kerapkali menjuarai IPHO, APHO, olimpiade komputer, atau yang baru-baru ini diselenggarakan di Jakarta, IJSO (International Junior Science Olympiad). Kita juga dapat saja 'mencemooh' negara-negara tetangga kita seperti Malaysia, Singapura, atau bahkan negara-negara maju di Eropa sana yang sering kali gagal di ajang-ajang tersebut. Putra-putri terbaik itu tentu telah melalui tahap seleksi yang ketat dari sekolah-sekolah sampai akhirnya dikarantina di suatu tempat dan dilatih keras berjam-jam sehari dengan soal-soal dan rumus-rumus yang njlimet, dan tentu saja memakan biaya yang tidak sedikit.

Lalu apa yang terjadi setelah semua ini? Setelah mereka tersenyum bangga memamerkan medali emasnya, beramah-tamah dengan presiden dan pejabat-pejabat negara, diundang mengisi acara-acara talkshow di televisi... Akhirnya mereka pun direkrut oleh universitas-universitas top dunia seperti MIT, Nanyang, NUS, dan mereka dengan senang hati menerimanya. Setelah mereka lulus, lalu bekerja di perusahaan hi-tech bonafid di negara tempat mereka kuliah yang membiayai pendidikan mereka.

Praktis, tidak ada manfaat yang signifikan bagi bangsa ini, tanah air putra-putri terbaik itu, yang dapat dikontribusikan dari prestasi mereka. Yang diperoleh hanyalah prestige, gengsi, yang mungkin itu sudah cukup bagi segelintir orang di negeri ini. Prestasi mereka mungkin hanyalah setetes air di tengah gurun. Setetes air tentu tidak mampu menghijaukan seluruh gurun. Prestasi mereka tetap saja tidak mampu mengangkat mutu pendidikan negeri ini. Di saat para orang tua kesulitan mendaftarkan anaknya sekolah karena uang pangkal yang mahal, gedung sekolah yang reot dan sering ambruk di desa-desa, bahkan di kota besar seperti Jakarta. Prestasi mereka juga tidak mampu menyemarakkan riset-riset sains dan teknologi di negeri ini.

Para orang-orang besar di atas rupanya lebih suka menyalurkan dana untuk pelatihan dan karantina para atlit olimpiade sains daripada menyuntikkan dana riset di universitas-universitas dan lembaga-lembaga riset dan IPTEK. Salah seorang dosen saya pun mengeluh karena pelitnya pemerintah mengeluarkan dana untuk riset, bahkan ada yang menerima tawaran untuk riset di negeri jiran. Dan salah seorang profesor emeritus di departemen saya juga menyangsikan manfaat event seperti olimpiade sains itu. "Yang penting itu dana riset!", ujarnya.

Kalau dipikir-pikir, bukan hal yang luar biasa jika Indonesia kerap menjuarai ajang-ajang seperti itu. Medali emas hanya didominasi oleh segelintir negara dengan jumlah penduduk yang sangat banyak seperti RRC, India, dan Indonesia. Masak sih dari 220 juta orang kagak ade nyang jago???

No comments: