15.10.04

Pencerahan Jelang Ramadhan

Kata para ulama, wanita tidak bisa menjadi pemimpin, apalagi pemimpin negara. Mereka mendasarkannya dari dalil-dalil Al Qur'an dan sunnah Rasul. Akan tetapi sejujurnya, deep down inside, saya belum mempercayai teori itu. Banyak sudah kita saksikan para pemimpin wanita yang sukses memimpin bangsanya. Sebut saja Margareth Thatcher di Inggris, Gloria Arroyyo di Filipina, dan Helen Clark di New Zealand. Bahkan kalau kita menengok balik ke ribuan tahun yang lalu, Ratu Bilqis berhasil membawa Saba menjadi negeri besar pada zamannya.

Sampai kemarin, pandangan saya masih belum berubah, sampai akhirnya kemarin malam seorang sahabat perempuan saya berhasil meluruskan kembali pemikiran 'nyeleneh' saya ini. Saya benar-benar tidak menyangka kalau ia, yang selama ini saya kenal sebagai perempuan yang cerdas, kritis, dan independen, dapat mengambil sebuah keputusan yang sangat emosional, yang cukup membuat saya shocked, berkaitan masalah di antara kami. Walau ia menarik lagi keputusannya, dan pada akhirnya persahabatan kami kembali normal, kejadian ini akhirnya meluruskan pandangan saya sebagai seorang muslim, yang seharusnya mengimani segalanya yang ada dalam Qur'an dan sunnah.

Bolehlah dikatakan Thatcher, Arroyyo, Clark, bahkan Ratu Bilqis berhasil dalam memimpin negerinya. Namun bukan berarti tidak ada masalah selama pemerintahan mereka. Masalah moral misalnya, yang akhirnya menyebabkan musnahnya negeri Saba, dan tetap manjadi problem serius dalam masyarakat di negara-negara maju saat ini. Dan mereka, khususnya Thatcher, Arroyyo, dan Clark, memimpin negaranya dengan sistem sudah tertata, tingkat kesejahteraan yang tinggi, dan kultur masyarakatnya yang memandang secara setara (dalam istilah feminis liberal) hubungan antara laki-laki dan wanita. Coba kalau mereka ditugaskan memimpin negeri yang sekompleks dan seamburadul negeri kita, Indonesia... dapat kita bayangkan.

Walaupun begitu, saya tetap tidak setuju dengan pandangan-pandangan bahwa perempuan adalah subordinat laki-laki. Keduanya diciptakan dengan segenap potensi rasio dan emosi, hanya dalam kadar yang berbeda-beda, dan dengan tugas yang berbeda pula. Perempuan memiliki potensi emosi yang melebihi potensi rasionya, sehingga dikhawatirkan tidak dapat mengambil keputusan secara jernih dalam keadaan genting. Maka dari itu wanita tidak tepat untuk posisi pemimpin negara. Berbeda dengan laki-laki yang memiliki potensi rasio lebih tinggi dari emosinya, sehingga dapat memutuskan dengan kepala dingin. Dan bila kita cermati pola ini, kita dapat menangkap maksud yang ada di 'Kepala' Sang Pencipta, bahwa laki-laki dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain, tidak ada istilah laki-laki di atas perempuan, atau perempuan di atas laki-laki. Keduanya memiliki pola hubungan yang sinergis dan egaliter dalam upaya meraih keridhaanNya. Subhanallah!

Alhamdulillah, menjelang Ramadhan ini, sebuah pencerahan telang datang, melalui dalamnya makna persahabatan. Kata orang, pengalaman adalah guru terbaik. Kata saya, persahabatan adalah guru terbaik.

1 comment:

Akhsayanty said...

hmmm...
jadi inget penelitian kuantitatif....
pola umum menunjukkan kebenaran statistik

jadi, karakter dasar apa pola umum?

saya juga sering tau temen-temen cowok yang emosional dalam momen-momen tertentu, bahkan pake pengen gelut segala! dan kayaknya temen kamu tuh juga lagi dalam kondisi yang gak stabil dech pas kayak gitu, hmmm
jadi mempertanyakan objektivitas tulisanmu... :)

tapi tenang, saya masih oke dengan kepala negara adalah (seharusnya) pria


katanya, akal itu adalah raga
sedang perasaan adalah jiwa.