11.10.04

Senin Malam di Kafe Halaman

Tidak seperti biasanya, hari senin selepas magrib saya masih berada di lab. Tapi jangan kira saya mengerjakan TA, saya malah pontang-panting mengetik tugas makalah kuliah hukum lingkungan. Kala itu hanya saya sendiri di lab. Kawan-kawan mahasiswa yang satu pembimbing dan satu KBK, serta bapak-bapak dan ibu-ibu S2 sudah pada cabut dari sebelum magrib.

Pukul 8 lewat dikit, ketika saya hampir menyelesaikan makalah, masuklah pak Freddy. Beliau adalah pembimbing TA saya. Masih lajang dan berusia kira-kira awal 30-an. Alumni ITB angkatan 91, lalu meneruskan S2 juga di ITB, dan akhirnya pada 1999 berangkat ke Jerman, tepatnya kota Tuebingen, guna melakukan research doktoralnya di bidang Medizinische Physik atau fisika medis, yang juga jadi tema TA saya. lalu kembali ke ITB sebagai dosen pada awal tahun ini. Pembawaannya yang cair dan humoris membuatnya cukup dekat di kalangan mahasiswa. Nyatanya, ia selalu jadi dosen penguji favorit pilihan para mahasiswa yang akan menempuh sidang TA. "Fadil udah makan?", tanyanya. "Belum pak", jawab saya datar. "Makan bareng saya yuk!", ujarnya. Wah, saya berpikir ini momen bagus untuk ngobrol dan sharing pikiran. Kapan lagi coba bisa makan bareng doktor, hehehe. "Wah, sebentar pak, ini dikit lagi, tanggung." jawab saya. "Emangnya kamu lagi bikin apa?" tanya pak Freddy. "Hehe, ini pak, tugas kuliah hukum lingkungan.", jawab saya tersipu. Waduh, ketahuan dah make lab bukan buat TA, hehehe. Untunglah, pak Freddy hanya tertawa, tapi dalam hatinya siapa tahu? "Buat besok pagi lagi??" tanyanya. "Ngga sih pak, besok jam 3 sore." "Ooh, masih lama lah." "Ini dikit lagi selesai kok pak." Singkat kata, setelah saya menyelesaikan tugas, akhirnya kami meninggalkan lab menuju tempat parkir.

Dalam perjalanan ke tempat parkir, saya sempat menanyakan isu adanya ujian kompre di fisika. Wah, gawat juga kalo bener, masa harus ngulang pelajaran dari awal lagi sih?! Lalu jawab beliau, "haha, ah masa sih, saya baru denger tuh. Tapi bagus lah, saya setuju itu!" Huh, dasar wiro dan adit, bigos banget tu anak dua!! "Eh, mau makan dimana nih??" tanya pak Freddy. "Wah, terserah bapak aja deh." Jujur, saya mengira kalau beliau terbiasa makan di warung-warung makan kelas mahasiswa. lalu saya memberi saran untuk makan di deretan warung makan belakang salman, yang terkenal dengan lalat-lalatnya yg lincah itu. "Oh, disana ada makanan apa aja?" tanyanya ragu. "Saya biasanya makan di Kartika Sari, tapi takutnya jam segini dah tutup. Gini aja deh, Fadil tau kafe halaman kan? kita makan di sana aja lah! Bentar ya, saya ambil uang dulu di atm BNI." Alahmak, kafe halaman?? kayanya bakal ditraktir neh, tp sbenernya ga enak juga sih.. tp udahlah, kapan lagi bisa ngobrol-ngobrol sama beliau? Hehe, batin saya segera mencari pembenaran.

Dengan mengendarai vespa, saya segera menyusul pak Freddy ke atm BNI. "Fadil tau kan kafe halaman? langsung kesana aja, saya naik angkot aja, Fadil ga bawa helm 2 kan?" Wadduh, tambah ga enak aja nih. "Ga papa kok pak, kan ga ada polisi.", jawab saya sekenanya. Mendengar jawaban saya, beliau tetap menolak. Wah, ternyata kultur disiplin barat telah tertanam dalam pada diri beliau.

Kafe Halaman pukul setengah sembilan malam. Suasana cukup ramai, banyak tamu yang datang, kebanyakan dari kalangan menengah atas dengan deretan mobil yang memenuhi tempat parkir. Ada seorang wanita yang turut membawa anjing peliharaannya, ada sekumpulan muda-mudi yang asyik bercengkrama dengan laptopnya. Dan kami, dosen pembimbing dengan mahasiswa bimbingannya.. kedengaran janggal ya, hehehe. Saya sempat bingung memesan makanan. Saya menanyakan makanan apa yang akan dipesan pak Freddy. "Nanti pilihan saya mempengaruhi kamu lagi. Udah, pesen aja!", jawab beliau. Hiks, padahal kalau saya makan di tempat semacam ini bersama ortu, santai aja pesen makanan paling enak, tapi sekarang suasananya berbeda 180 derajat! Akhirnya spaghetti bolognaise dan ice tea jadi pilihan saya. Tak terlalu mahal dan saya menyukainya. Pak Freddy pesan yahun, dan harganya.. lebih murah 9000 perak dari pesanan saya, aduhh...

Tapi akhirnya saya berusaha sekuat tenaga menyingkirkan perasaan tidak enak itu. Dan memang, banyak pengetahuan baru yang saya dapat selama kami ngobrol. Ada perasaan gemas, ketika mengetahui ada beberapa gelintir mahasiswa Indonesia yang berwatak culas ketika sekolah di Jerman. Mereka dibiayai oleh BPPT untuk riset dan sekolah di sana, dan status mereka sebagai pegawai negeri di BPPT. Eh, ternyata setelah mereka menyelesaikan sekolahnya, enggan untuk kembali ke tanah air dan bekerja di BPPT. Brengseknya lagi, gaji mereka sebagai pegawai negeri yang cuma ratusan ribu tetap diambil, padahal penghasilan mereka di Jerman sangat jauh melebihi itu. Memang pemerintah dalam hal ini juga salah. Percuma aja menyekolahkan orang sebanyak-banyaknya ke negara-negara maju, tetapi masih pelit mengeluarkan dana untuk kemajuan riset dalam negeri. Padahal saya pernah dengar, kemajuan suatu negara diukur dari giat atau tidaknya riset iptek di negara tersebut. Yah, mudah-mudahan pemerintahan yang baru ini menyadarinya.

Saya juga dikasih wejangan-wejangan, berkaitan dengan TA saya. Beliau secara halus mengkritik naskah teori dasar saya yang katanya terlalu naratif, tidak cocok untuk sebuah karya ilmiah yang seharusnya menggunakan bahasa pasif. Huh, sebenarnya saya udah tau hal itu, cuma kok bisa lupa ya?? Sial, percuma aja Technical Writing dapet A!

Sekitar pukul 10, kami pun bergegas pulang. Besoknya saya harus kuliah pagi, begitu juga pak Freddy harus mengajar pagi. "Kalau profesor di Jerman traktir mahasiswanya, dia catat nama-namanya supaya dapet refund dari uni.", candanya. Hahaha, tapi sepertinya beliau tidak akan melakukan itu. Fiuh, lumayan memang, beliau membayar 50 ribu perak untuk pesanan kami tadi. "Makasih ya, udah nemenin makan!", ujarnya. "Waduh, makasih juga pak, maaf ngga bisa nganterin lagi!", jawab saya dengan tidak enak. Akhirnya kami berpisah. Waah, gumamku dalam hati, inilah enaknya punya dosen pembimbing masih bujangan, siapa sangka bakal di traktir makan, di kafe pula, hehehe!

No comments: